-
:$
(via parfaition)
-
(via fuckyesteenagedream)
-
Houses on the Move, Proposal for a Retreating Village
Smout Allen
2007. pen on paper.
-

-
Architect
Architect
The nation’s leading professional design publication. The most comprehensive, innovative coverage of design, technology, culture, practice, and products. No one covers the market like Architecture, with the best writing, photography, and graphic design in the business. Take Action! Get it immediately!! -


-

-

-

-
‘Cinta’

Mungkin ini tulisan pertama saya mengenai cinta. Ya, cinta. Cinta mengandung banyak definisi. cinta antara aku dan dia, cinta antara aku dan Sang Pencipta, dan cinta antara aku dan apa yang ada di semesta. Untuk kali ini antara aku dan dia adalah sesuatu yang cocok untuk saya ceritakan.
Saya setuju bagi siapa yang mengatakan bahwa cinta itu datang secara tiba-tiba, tak terduga, kapanpun, dan siapapun. Karena itulah yang saya alami 6 bulan terakhir ini. Tiga tahun mengalami kekosongan itu bukanlah sesuatu yang istimewa. Tiga tahun tanpa merasakan adanya cinta. Tiga tahun selalu tertutup terhadap semua hal. Sungguh konyol pemikiran seperti itu, egois.
Dulu saya pernah merasakan apa itu cinta, apa itu sayang, dan apa itu saling memiliki. Namun secara tak terduga ketika semua terlihat baik-baik saja rasa itu kandas, dan semua berubah. Saya mulai jenuh untuk mengingat hal itu kembali. Dulu adalah waktu yang telah berlalu, jadi biarkanlah yang telah berlalu itu menjadi sebuah pengalaman dan kenangan hidup ini.
Saya bingung harus memulai kisah ini dari mana karena semua terjadi begitu saja dan tak terduga. Selama dua tahun kita pernah belajar, menuntut ilmu dalam satu tempat yang sama, bahkan dipersempit dalam satu ruangan yang sama. Rasa itu belum timbul, datar, hanya mengenal nama dan wujud. Hingga akhirnya kita mulai saling mendekat. Saya nyaman ketika harus bercerita kepada dia, dan saya merasa nyaman ketika harus mendengarkan kisah-kisah hidupnya, sungguh menarik. Dari situ saya mulai mengenalnya lebih dalam, apa saja tentang dia. Semuanya seperti air mengalir. Setiap hari dia mengisi hari-hari saya. Tertawa, gembira, senang, sedih, sakit, marah. Seiring kedekatan kita, rasa itu mulai berkembang, tumbuh. Saya mulai peduli terhadapnya, begitupun sebaliknya. Aku berpikir dia itu istimewa, dia itu sempurna, dia itu kriteria semua lelaki. Banyak yang ingin mendapatkannya, mendapatkan hatinya, mempunyai banyak fans. Dia lebih berpengalaman dalam soal cinta, sedangkan saya bukan apa-apa bila dibandingkan dengannya. Hal itulah yang membuat saya ragu untuk menjalin suatu hubungan yang lebih jauh. Saya takut dia akan bosan dengan apa yang telah saya lakukan kepadanya selama ini. Keraguan lain datang dari berbagai pihak yang secara tidak langsung memberi sugesti kepada saya bahwa memilikinya adalah suatu hal yang sia-sia. Tetapi keraguan itu sudah saya buang! Untuk apa meragukan perempuan seperti dia. Saya percaya kepadanya.
29 Oktober 2011, Saya memberanikan diri untuk mengutarakan rasa ini. Ya, cinta. Rasa antara aku dan dia. Terima kasih
Kurangdari-Tiga, ZK
-
356 Outlaw





